Saturday, February 15, 2014

Seni dan Budaya Politik Jawa

Bagi orang Jawa, pengaruh kesenian wayang dalam kehidupan nyata sangat besar. Cerita wayang maupun tokoh-tokoh wayang seringkali mengilhami sikap hidupnya, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak kurang dari Soeharto, presiden kedua negara kita. Menjelang kejatuhannya, dia pernah mengatakan akan mengundurkan diri dan akan lebih meningkatkan kehidupan rohaninya.
Seperti para raja ksatria dalam tokoh pewayangan, jika sudah tua tidak mau lagi menjadi raja; dan akan mengabdikan dirinya untuk meningka katkan amal ibadahnya dengan menjadi seorang pendeta. Dalam istilah pewayangan, sering disebut dengan: ”lengser keprabon, mandeg pandita”.
Nama-nama para tokoh pewayangan, utamanya para ksatria, juga banyak digunakan untuk memberi nama anak-anaknya. Agar si anak memiliki sifat seperti nama yang disandangnya. Sebagai contoh, nama Wisnu, Bima, Harjuna, dan lain-lain sering diambil dan dijadikan sebagai nama seesorang. Pemberian nama tokoh-tokoh wayang kepada seseorang, patut diduga tidak terdapat dalam (etnis) lain di Indonesia.
Walaupun kesenian wayang (golek) juga terdapat dalam masyarakat Sunda, namun pengaruhnya tidak sekuat seperti dalam masyarakat Jawa. Kesenian pertunjukan wayang, walaupun sekarang sudah mulai jarang, namun masih sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan, seperti: acara perkawinan, atau bahkan kenegaraan yang diadakan oleh pimpinan
pemerintahan dari etnis Jawa. Selain itu, kesenian wayang juga masih ditampilkan dalam acara di media elektronika, seperti televisi.
Buku ini tentu saja hanya menugngkapkan secara garis besarnya saja, tentang kesenian wayang
dan budaya Jawa yang sedikit banyak mendapat pengaruh dari kisah pewayangan.



Inilah sekilas pengantar pada buku "Seni dan Budaya Politik Jawa" semoga bisa menjadi bahan kajian dan Literatur yang berguna bagi para pembaca...!!!

Download ebooknya disini.

No comments:

Post a Comment